Latest Post
18.41
Rumput Laut Pandawa
Written By De Du on Jumat, 22 Agustus 2014 | 18.41
Rumput Laut Pantai Pandawa, Merupakan salah
satu komoditas unggulan program industrialisasi perikanan budidaya.
Pada tanggal 29 Desember 2012, bertempat di Pantai Pandawa, Desa Kutuh,
Kec. Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Propinsi Bali, Menteri Kelautan dan
Perikanan (MKP) Sharif C. Sutardjo, didampingi oleh Direktur Jenderal
Perikanan Budidaya (Dirjen PB) Slamet Soebjakto melakukan dialog dengan
pembudidaya rumput laut.
Selain dialog dengan
pembudidaya rumput laut, MKP juga menyaksikan penandatanganan
Kesepakatan Bersama antara Asosiasi Rumput Lut Indonesia (ARLI) dengan
pembudidaya rumput laut Desa Kutuh yang menyangkut pemasaran hasil
budidaya rumput laut. MKP dam Dirjen PB juga melakukan panen rumput laut
di tepi pantai Pandawa.
Pada sambutannya, MKP menyatakan bahwa rumput
laut ini memiliki potensi yang begitu besar untuk terus dikembangkan
sehingga perlu mengembangkan usaha budidaya rumput laut secara
terintegrasi mulai dari hulu sampai hilir.
MKP juga menjelaskan, bahwa Industrialisasi rumput laut
dilaksanakan dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kualitas
produksi budidaya rumput laut yang sekaligus bertujuan untuk dapat
memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan, meningkatkan
pendapatan pembudidaya, menyediakan lapangan kerja serta merevitalisasi
usaha budidaya rumput laut baik skala mikro, kecil maupun menengah
secara berkelanjutan.
Lebih lanjut MKP menegaskan, pengembangan usaha budidaya rumput laut yang merujuk pada pilar-pilar pengembangan blue economy berperan penting dalam melipatgandakan pendapatan dengan penyerapan tenaga kerja yang tinggi dan tidak merusak lingkungan
Blue Economy merupakan
model ekonomi baru untuk mendorong pelaksanaan pembangunan
berkelanjutan dengan kerangka pikir seperti cara kerja ekosistem. Cara
pandang ekonomi tersebut merupakan suatu model bisnis yang mampu
meningkatkan nilai tambah dari komoditas rumput laut. Langkah ini
ditempuh untuk meningkatkan penerimaan negara dan masyarakat sekitar
lokasi budidaya rumput laut melalui upaya peningkatan nilai tambah
komoditi rumput laut.
Pada kesempatan yang sama, MKP juga meresmikan pantai Pandawa sebagai
tujuan wisata bahari baru. Sebelum sampai di pantai pandawa, mata
pengunjung akan dimanjakan dengan deretan patung-patung Pandawa Lima,
yang berdiri gagah dipinggiran tebing. MKP mengharapkan agar pemerintah
daerah dalam hal ini pemerintah desa Kutuh, mampu melakukan tata ruang
di pantai Pandawa sebaik mungkin, sehingga tidak terjadi tumpang tindih
antara kepentingan wisata dan budidaya rumput laut. Dengan kata lain,
wisata di Pantai Pandawa harus berkembang, tanpa menggusur eksistensi
pembudidaya rumput laut disana.
Sumber: http://www.djpb.kkp.go.id
Label:
Petani
18.34
Petani Rumput Laut Kutuh
Desa Kutuh merupakan salah
satu sentra budidaya rumput laut di Pulau Dewata. Setidaknya ada 5
kelompok pembudidaya rumput laut di sana, yang paling lama terbentuk
adalah Sari Segara. Sari Seraga menjadi contoh bagi terbentuknya
kelompok pembudidaya rumput laut lainnya di Desa Kutuh. Menurut Ketut,
para sudah merasakan dampak positif dari berkelompok terutama dari sisi
pemasaran. “Produksi dari desa ini dapat meningkat dan posisi tawar
lebih kuat,” ungkap Ketut.
Pembentukan kelompok budidaya ini bukannya
tanpa latar belakang. Ketut menceritakan, sejak 1990-an budidaya rumput
laut di Desa Kutuh sudah mengmbangkan usaha budidaya rumput laut. Kala
itu usaha dijalankan secara perorangan dan penjualan pun bergantung para
penampung atau tengkulak.
Para pembudidaya kerap merasakan harga
jual rumput laut yang rendah, bahkan panen ada sampai yang tidak dibeli.
“Mereka tidak bisa berbuat apa-apa sebab produksinya kecil dan hanya
tergantung pada satu penjual,” kata Ketut. Melihat keadaan itu para
pembudidaya pun berkumpul dan sepakat untuk menginisiasi pembentukan
Kelompok Sari Segara pada pada 12 Oktober 1995.
Ketut menjelaskan
sejumlah manfaat yang dapat dipetik para pembudidaya rumput laut dengan
berkelompok. Salah satunya adalah produksi kelompok yang punya anggota
aktif sekitar 30 orang ini kini lebih besar dan terorganisir. Calon
pembeli terutama dari pabrikan tidak perlu repot-repot mendatangi
langsung pembudidaya orang per orang untuk membeli rumput laut, cukup
datang ke Sari Segara yang menampung hasil panen para pembudidaya.
Pada
akhirnya harga jual pun dapat dikatrol. Saat ini untuk harga jual
rumput laut Cotonii kering di tingkat rata-rata Rp 10.000 per kg. Jumlah
produksi yang besar dan stabil, membuat posisi tawar Sari Segara dalam
menjual rumput laut lebih kuat. Kelompok yang sekarang sudah berbentuk
koperasi itu, bisa punya pilihan akses pembeli baik perorangan maupun
perusahaan.
Ketut mengaku sudah memanfaatkan internet untuk
memperluas akses pemasaran. Pihaknya juga bisa mengakses informasi
jaringan kelompok pembudidaya rumput laut di daerah lain untuk
membandingkan harga, termasuk produksi dan kualitas rumput laut. “Kita
tidak bisa dibohongi dan dipermainkan lagi oleh pembeli,” tegas Ketut.
Sumber: http://www.trobos.com
Label:
Petani






